Halaqoh 3
Oleh
Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto,
M.A.
بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ باللّهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ.
Ikhwah
wa akhwat a’āzakumullāhu jamī’an, pada kesempatan (pertemuan) yang ke-3 dalam
kajian fiqh Syafi’i ini kita masih melanjutkan pembahasan kita tentang
keutamaan attafaqquh fiddīn (belajar ilmu syari’at dan agama Islam) yang mulia
ini.
Rasūlullāh
shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menyebutkan dalam hadits yang shahīh
sebagaimana yang kita sebutkan pada pertemuan sebelumnya tentang keutamaan
penuntut ilmu yang apabila dia melakukannya dengan ikhlash karena Allāh maka
balasannya adalah surga.
Karena
kita tahu bahwa belajar agama Islam dan syari’atnya adalah merupakan kewajiban
bagi setiap muslim, sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut
ilmu adalah hukumnya wajib bagi setiap muslim.”1
Ada
hadits yang sangat bagus tentang keutamaan menuntut ilmu ini, diriwayatkan oleh
Abu Darda’ radhiyallāhu ‘anhu, dia berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلى اللهُ عَليهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :
« مَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقاً
إِلى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ المَلائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ
الْعِلْمِ رِضاً بِمَا يَصْنَعُ ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ
فِي السَّمَواتِ وَمَنْ في الأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي المَاءِ (وَفِيْ
رِوَايَةٍ حَتَّى النَّمْلَةُ فِي جُحْرِهَا) ، وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلى
الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ
وَرَئَةُ الأَنْبِيَاءِ ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثٌوا دِينَاراً وَلا
دِرْهَماً وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ
وَافِرٍ » رواه أبو داوود والترمذي و لفظ له
Diriwayatkan
dari Abu Darda’ semoga Allāh meridhainya, dia berkata: “Aku mendengar
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang meniti
jalan yang dengannya dia mencari ilmu maka Allāh akan mudahkan baginya (dalam
riwayat lain: dia sebenarnya adalah meniti jalan menuju ke surga) dan para
malaikat mereka menaruh sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena
ridha terhadap apa yang mereka perbuat. Dan sesungguhnya seorang yang berilmu
(tahu tentang syari’at dan mengajarkannya kepada manusia) akan dimintakan ampun
oleh seluruh makhluq yang ada dilangit maupun yang ada dibumi, sampai-sampai
ikan paus yang ada dilautan (dalam riwayat yang lain: sampai-sampai semut-semut
yang ada dilubangnya). Dan keutamaan seorang yang berilmu dibanding seorang
ahli ibadah adalah seperti keutamaan atau sinar rembulan dibanding sinar
bintang-bintang yang kecil. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para
Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, akan
tetapi mereka mewariskan ilmu dan meninggalkan harta pusaka yang sangat
berharga yaitu ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan maka sungguh dia telah
mendapatkan bagian yang sangat beruntung/berharga” 2
Hadits
yang mulia ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam At-Tirmidzi dan lafazh
hadits ini adalah lafazh Imam At-Tirmidzi. Tentang keshahihah hadits ini
para ulama mengatakan ada sedikit kelemahan, namun makna yang terkandung dari
hadits ini adalah makna yang shahih, dimana sesuai dengan dalil-dalil shahih
yang lain secara umum tentang kewajiban menuntut ilmu dan tentang keutamaan
para penuntut ilmu.
Bagaimana
tidak, seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun oleh seluruh makhluq yang
ada dilangit dan dibumi. Sampai-sampai hewan dilautan (ikan) dan hewan yang ada
didalam bumipun mereka memintakan ampun untuk orang yang mengajarkan kebaikan.
Kenapa demikian? Karena ilmu itu naf’uhu muta’addiy (manfaatnya
berkesinambungan), ilmu ketika diajarkan kepada orang maka manfaatnya bukan
hanya bagi si pemilik ilmu saja namun kepada oranglain yang mendengarkannya.
Bermanfaat untuk orang lain pula yang mengetahui dan melihat ilmu itu
diamalkan. Hewan-hewan pun merasa tenang dan aman ketika ilmu syari’at
diberlakukan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari di muka bumi
ini. Ikan pun tidak akan diambil secara sia-sia, demikian juga
makhluq-makhluq yang lain akan dijaga ketika syari’at Islam ini ditegakkan di
muka bumi ini. Oleh karena itu tidak mustahil dan tidak aneh apabila
makhluq lainpun akan memintakan ampun untuk para pengajar ilmu kebaikan.
Apalagi manusia, mereka yang pertama kali mendapatkan manfaat dari ilmu yang
disebarkan oleh para ulama ini.
Keutamaan orang yang berilmu dibanding
orang ahli ibadah, dikatakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,
ibaratnya adalah sinar rembulan dibanding dengan sinar bintang yang
kecil. Memang seorang ahli ibadah baik dan kalau ibadahnya sesuai dengan
contoh Rasūlullāh dan ikhlash melakukan karena Allāh semata, in syā Allāh dia
akan masuk surga. Namun ibadah itu hanya bermanfaat untuk dirinya, paling
banter hanya untuk orang-orang terdekat yang melihat dia.
Seorang
ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya itu ibaratnya sebuah rembulan, dimana bukan
hanya menyinari dirinya sendiri saja namun dia juga menyinari alam semesta dan
seluruh makhluq yang ada di muka bumi tersebut. Berbeda dengan bintang,
bintang adalah perumpamaan orang yang beribadah. Dia hanya bermanfaat untuk
dirinya. Dan dia hanya menyelamatkan dirinya atau paling orang terdekat yang
melihat dia dan tertarik dengan ibadah dia. Dia akan masuk surga sendirian.
Sementara
para ulama, ketika menulis buku, menyampaikan ceramah, memberikan nashihat,
manfaatnya bukan untuk dia saja. Dia in syā Allāh selamat karena mengamalkan
ilmunya namun ilmu itu akan menyebar, difahami dan diamalkan oleh orang yang
sangat banyak.
Apalagi
pada zaman sekarang, subhānallāh teknologi yang begitu canggih, dimana
seseorang bisa menyampaikan ilmu dirumahnya dan bisa sampai ke ujung dunia.
Dengan sarana internet, telepon dan semacamnya, itu sangat membantu untuk
menyebarkan ilmu.
Oleh
karena itu keutamaan ahli ilmu jauh diatas keutamaan para ahli ibadah.
Sekalipun dua-duanya adalah bagus, bersinar, bermanfaat untuk pemiliknya dan
juga mungkin orang sekitarnya tapi ilmu jelas manfaatnya jauh lebih banyak.
Dalam
hadits lain disebutkan:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى
أَدْنَاكُمْ
“Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah adalah
seperti keutamaan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dibanding orang yang
paling rendah dikalangan kalian.” 3
Kemudian
juga disebutkan bahwasanya para Nabi tidak mewarisi apa-apa dari harta kekayaan
dunia, tidak mewarisi emas dan perak namun para Nabi mewariskan ilmu dan kita
disuruh untuk mengambil warisan dan harta pusaka tersebut dengan cara
mempelajari tafsir ayat Alqurān, mempelajari makna Alqurān dan hadits yang
disampaikan oleh Beliau. Barangsiapa yang mengambil warisan ini maka
sungguh dia telah mendapatkan warisan yang sangat berharga.
Oleh
karena itu marilah kita mengikhlashkan niat kita untuk beribadah kepada Allāh
semata dengan melalui thalabul ‘ilmi dan belajar dengan ikhlash dan
sungguh-sungguh. Mudah-mudahan kita semua dimudahkan untuk meniti jalan
menuju surga dan dimudahkan untuk menjadi para ulama dan orang-orang yang
mengamalkan ilmu mereka karena Allāh semata.
Terima
kasih. Inilah yang bisa kita bahas dalam pertemuan kali ini. In syā Allāh kita
akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya dengan topik yang in syā Allāh lebih
menarik.
بِاللهِ التَوْفِيْقِ وَالْهِدَايَةِ
وَصَلَّى اللّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ
صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Transkriptor: dr. Ummu Abdirrahman
Editor: Dr. Farid Abu Abdillah
Murojaah: Ust. Eko Haryanto Abu
Ziyad, M.A.
1 Hadits
Anas Ibn Malik, H.R. Ibnu majah 224
2 Hadits
Abu darda’, H.R. Ahmad 21715 ; At tirmidziy 2682
3 Hadits
Abu Umamah Al Bahily, H.R. At tirmidzi 2685
Belum ada tanggapan untuk " Muqaddimah Keutamaan Menuntut Ilmu Bagian 2"
Post a Comment