Halaqoh 7
Oleh
Ust. Eko Haryanto Abu Ziyad,
M.A.
———————————–
بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
أَلْحَمْدُ لِلّهِ وَالصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللّهِ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ikhwan
dan akhwat peserta kajian fiqh yang dimuliakan Allāh, pada sesi yang ke-7 ini
kita akan lanjutkan dengan membahas biografi Al-Imām Al-Fāqih Al-‘Allāmah
Syihābuddīn Ahmad bin Al-Husain Ibn Ahmad Abu Syujā’ Syihabuddīn Ath-Thayyīb
Al-Ashfihany.
Beliau dilahirkan di Al-Ashfihan Iran pada tahun 433 H
dan Beliau telah mengajar madzhab Imam Syafi’i lebih dari 40 tahun
disekolah-sekolah yang ada di Bashrah sehingga Al-Hāfizh As-Silafy1 mengatakan :
هذا من أفراد الدهر
“Imam
Abu Syujā’ merupakan orang yang sangat langka di masa ini.”
Abu
Syujā’ diberikan umur yang sangat panjang, ada yang mengatakan Beliau hidup
lebih dari 160 tahun. Namun demikian, sekalipun umurnya panjang, Beliau tidak
pikun dan anggota tubuhnya tidak sakit atau bermasalah bahkan Beliau tetap
sehat dan fungsi anggota tubuhnya normal sampai Beliau wafat.
Ketika
ditanya, apa rahasia sehingga Anda memiliki kesehatan yang luar biasa,
diberikan kesehatan oleh Allāh yang sangat sempurna?
Beliau
menjawab:
ما عصيت الله تعالى بعضو منها في الصغر, فحفظها الله على في الكبر
“Aku
tidak menggunakan salah anggota tubuhku ini untuk bermaksiat kepada Allāh
ketika aku masih muda (kecil) sehingga Allāh menjaganya ketika aku telah
berusia renta (tua).
Ketenaran
Beliau terus menggema diseluruh penjuru negeri kaum muslimin dan Beliau sangat
dikenal dengan keilmuannya dan kewara’annya. Dan Beliau pernah menjabat sebagai
qādhi (hakim) pada tahun 447 H.
Dan
Beliau menjadi qādhi teladan (pilihan) yang dijadikan contoh bagi para hakim
yang lain karena Beliau sangat dikenal dengan keadilannya dan tidak takut
ketika menegakkan kebenaran (لا يخشى في الله لومة لائم), tidak takut untuk
dicela ketika dia membela kebenaran.
Beliau
tinggal di Madinah Munawarah (al Madinah An-Nabawiyyah) dan Beliau mewakafkan
hidupnya untuk berkhidmat kepada Al-Harām An-Nabawiy Asy-Syarīf untuk mengajar
disana, menyebarkan ilmu dan warisan para ulama ini kepada para penuntut ilmu
yang ada di Madinah.
Beliau
wafat pada tahun 593 H dan dimakamkan di kota Madinah. Ada yang mengatakan
Beliau wafat tahun 600an H seperti yang disebutkan oleh Ibn Qādhiy Asy-Syahbah.
Karya Ilmiah
Karya
ilmiah Beliau yang sampai kepada kita hanya 2 kitab, ini menunjukkan bahwa
memang pada saat itu banyak buku-buku yang hilang dan tidak sampai kepada kita
kecuali 2 kitab ini.
Kitab
Syarhul Iqnā’ li abil hasan al mawardi, seorang ulama besar dari kalangan
Syafi’iyyah
Kitab
Ghāyatul Ikhtishār (Ghāyatut Taqrīb), dikenal juga dengan nama Matan Abu
Syujā’, yaitu yang akan kita pelajari isinya yang disyarh oleh Syaikh Ibn Qāsim
Al-Ghazzi dan ulama-ulama syafi’iyyah lainnya.
In
syā Allāh kita akan selami (dalami) isi dan manfaat yang ada dalam kitab ini,
kemudian apa yang perlu kita ketahui dari kitab Ghāyatul Ikhtishār, matan dari
Kitab Syarh Ibn Qāsim Al-Ghazzi ini. In syā Allāh kita juga akan bahas pada
pertemuan berikutnya tentang apa sebenarnya kitab Ghāyatul Ikhtishār ini
sehingga diperhatikan oleh para ulama dan disyarah oleh banyak sekali ulama
dulu maupun sekarang.
Demikian
yang bisa kita sampaikan pada halaqoh yang ke-7 ini, mudah-mudahan bermanfaat.
بِاللَّهِ تَوْفِيْقِ وَ الْهِدَايَةِ.
وَصَلَّى اللّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
1 Ahmad
bin Muhammad bin ahmad bin Muhammad bin ibrohim bin silafah , al hafidz al
kabiir abu dhohir bin abi ahmad as silafi al asbahani al jarwaani. Lahir tahun
472 H (sebagian ahli sejarah mengatakan 475) usia beliau lebih dari 100 tahun,
wafat tahun 583 H. Beliau seorang haafidz, imam besar, banyak melakukan rihlah
dalam rangka menuntut ilmu, faqih, kokoh hafalannya dan ahli bahasa. Pertama
kali mendengarkan hadits tahun 488 H dari al qosim bin al fadhl ats tsaqofy,
Abdurrahman bin Muhammad bin yusuf as simsar dan lain-lainnya. Kemudian beliau
rihlah ke Baghdad tahun 493 H dan belajar dari banyak ulama Baghdad pada masa
itu, kemudian beliau haji dan selama melakukan perjalanan haji beliau masih
menuntut ilmu di negeri-negeri yang dilewati seperti kufah, mekkah dan madinah.
Setelah kembali ke Baghdad beliau menyibukkan diri dengan bahasa arab dan
kemudian tahun 500 H beliau menuntut ilmu ke bashroh, kemudian ke damaskus
tahun 509 H, setelah itu beliau ke iskandariyah dan menetap disana sampai
wafatnya tahun 583 H, tidak pernah keluar lagi dari iskandariyah kecuali satu
kali ke mesir (kairo) tahun 517 H. Al Imam adz dzahabi berkata: “aku tidak
pernah mengetahui seorangpun di dunia ini yang menuntut ilmu hadits selama 80
tahun lebih kecuali as-silafi” (thobaqoot asy syafiiyyah al kubro 6/32)
Belum ada tanggapan untuk "Biografi Al Imam Abu Syujā’"
Post a Comment