Halaqah #1
Oleh: Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, M.A.
بسم
الله الرحمن الرحيم
السلام
عليكم ورحمة الله وبركاته
ان
الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نتوب إليه نعوذ با الله من شرور أنفسنا و
من سيئات أعمالنا من يهد الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله
الا الله و أشهد أن محمدا عبده و رسوله لا نبي بعده.
فإن
أصدق الحديث كتاب الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم و شر الأمور
محدثاتها و كل محدثاة بدعة و كل ضلالة في النار.
أما
بعد
فالحمد
لله القائل في كتابه:
أعوذ
بالله من الشيطان الرجيم
فَلَوْلَا
نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ ( التوبة :
122)
واالصلاة
و السلام من لا نبي بعده القائل في حديثه :
عن
معاوية رضي الله عنه : من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين ( متفق
عليه)
Ikhwan dan akhwat yang saya
muliakan, alhamdulillāh pada kesempatan kali ini insya allah kita akan
sama-sama mengkaji dan mendalami ilmu yang sangat mulia, ilmu yang dikatakan
oleh para ulama afdhālul ‘ulūm wa awlāha bil’inayāh (ilmu yang paling utama dan
paling berhak untuk diperhatikan) yaitu ilmu fiqh.
Sebuah ilmu yang dengannya bisa
diketahui benar dan tidaknya ibadah seseorang, yang dengannya pula dapat
diketahui yang halal dari yang haram. Dan bahkan dengan ilmu ini pula Allāh
menjaga kelanggengan syari’at Islam serta terjaga dari kekeliruan dan
kesesatan.
Allāh
Subhānahu wa Ta’ālā berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Mengapa tidak pergi
dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan tentang agama”. 1
Sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu
‘alayhi wa sallam juga memberitahukan kepada kita dalam jawāmi’ul kalīm Beliau,
hadits yang pendek namun memiliki makna yang sangat luas dimana Muawiyyah bin
abi sufyan berkata : aku mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
Bersabda:
من
يرد الله به خيرا يفقهه في الدين ( متفق عليه)
“Barangsiapa
yang Allāh kehendaki untuknya kebaikan, niscaya Allāh akan fahamkan dia dalam
agama Islam”. 2
Dari hadits di atas dapat diambil
faidah bahwa diantara tanda seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allāh Subhānahu
wa Ta’ālā adalah:
- Dia difahamkan dalam dīnul
Islām
- Diberikan kemudahan untuk
mempelajarinya
- Diberikan kelapangan dada
untuk mengkaji ilmu-ilmu yang terkandung didalam dīn yang mulia ini.
Diantara ilmu yang tidak ringan dan
ilmu yang sangat penting adalah ilmu fiqh ini. Karena ilmu fiqh akan menjaga
seseorang dari kekeliruan dalam beribadah, menjaga kekeliruan seseorang dalam
proses muamalat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā atau dengan Allāh juga
tha’āmun ma’al khalq, juga ketika dia bermuamalah (berinteraksi) dengan sesama
manusia.
Memang kita tahu bahwasanya ilmu
tauhid adalah ilmu yang paling agung dan mendasar karena aqidah adalah
merupakan pondasi dalam Islam ini. Namun tentunya disana ada ilmu-ilmu lain
yang tidak kalah penting dan harus kita pelajari untuk melengkapi tauhid dan
manhaj kita, yaitu diantaranya adalah mempelajari ilmu fiqh.
Kitab
yang akan kita pelajari ini adalah syarah dari matan Al-Ghāyah wat taqrīb yaitu
syarah Ibnu Qāsim Al-Ghazzi terhadap matan Abu Syuja’ 3 yang
dikenal dengan kitab Fathul Qarīb Al-Mujīb Fisy Syarhi Alfadzit Taqrīb 4 yang
ditulis oleh Al-‘Allāmah Asy-Syaikh Ibnu Qāsim Al-Ghazzi 5 .
Kitab ini merupakan kitab yang
sangat agung, kitab yang menjadi rujukan para ulama dan para thullābul ‘ilm
karena sekalipun kitab ini bentuknya singkat dan kecil serta sederhana, namun
dia mencakup hampir seluruh bab-bab fiqh dan menyebutkan tentang mayoritas
hukum-hukum dan masalah-masalah yang terkait, baik dalam masalah ibadah maupun
masalah muamalat.
Diantara kelebihan lainnya adalah:
• Kitab ini mudah untuk difahami,
mudah untuk dimengerti dan lafal-lafalnya sangat singkat dan bagus.
• Kitab ini juga menncakup
masalah-masalah yang disebutkan secara terperinci. Jadi tidak seperti
kitab-kitab fiqh lainnya yang disebutkan secara global atau disebutkan begitu
saja. Namun dikitab ini dibagi dengan rinci dan sangat rapi.
Oleh karena itu akan memudahkan bagi
para penuntut ilmu, baik pemula maupun yang sudah tingkat atas (mutaqaddīm)
untuk memahami fiqh ini dengan mudah dan gampang.
Kenapa kita pilih kitab Syarah Matan
Abu Syuja’ (Fathul Qarīb Al-Mujīb) ini?
Karena kitab ini merupakan kitab ‘umdah
(inti) dalam madzhab Syafi’i yang mana mayoritas kaum muslimin di Indonesia
atau Asia Tenggara dalam tata cara ibadah, dalam melaksanakan muamalat
sehari-hari kebanyakan adalah mengikuti madzhab AsySyafi’i. Oleh karena itu
kita harus tahu apa sebenarnya madzhab Syafi’i dalam masalah-masalah yang kita
hadapi dalam setiap harinya.
Tentunya kita tidak taqlid kepada
Al-Imam Asy Syafi’i karena beliau sendiri melarang kita untuk taqlid kepada
pendapat dan perkataan beliau. Namun kita bukan berarti lepas dari ijtihad para
ulama. Karena ulama telah bersusah payah memahami Alqurān dan Hadits dan
beristimbat (mengambil kesimpulan) dari ayat-ayat dan hadits-hadits yang mereka
baca, diambil kesimpulan hukumnya dan mereka sebutkan pendapat-pendapatnya.
Selama pendapat itu tidak bertentangan dengan dalil, baik Aqurān maupun hadits
yang shahih maka pendapat itu boleh kita ikuti. Karena tidak semua orang mampu
untuk mengambil hukum langsung dari kitab Alqurān maupun Hadits Rasūlullāh
shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dikarenakan mayoritas manusia (kaum muslimin)
adalah belum sampai ke derajat mujtahid. Tentunya, kalau seseorang sudah sampai
ke tingkatan mujtahid, dia harus mencari sendiri, membaca sendiri dan mengambil
istinbat hukum tersendiri.
باالله
التوفيق و الهداية
و صلى
الله على نبينا محمد و على اله وصحبه أجمعين
Ditranskrip dari kajian Whatsapp
Ust. Abu Ziyad oleh dr. Maria Ulfa Ummu Abdirrahman
Editor: Dr. Farid Fadhillah Abu
Abdillah
Murojaah: Ust. Abu Ziyad Eko
Haryanto, M.A.
2 HSR Al-Bukhari : 71 dan
Muslim : 1037
3 Ahmad bin Al husain bin
ahmad, abu syuja’, syihabuddin abut thib al asfahany rahimahullah. Seorang
faqih dari madzhab asy-syafi’i. Masyhur dengan sebutan al-qodhi abu syuja’.
Dilahirkan tahun 433 H di kota ‘abadaan dan wafat tahun 593 H di kota madinah.
Beliau menjadi qodhi tahun 447 H dan beliau adalah contoh seorang qodhi yang
adil yang tidak takut kepada apapun kecuali Allah betapapun beratnya celaan
orang-orang yang suka mencela. Beliau memiliki kitab diantaranya at taqrib
dalam ilmu fiqh dan disebut juga ghoyatul ikhtishor, diantaranya juga syarhu
iqna’ al mawardi.
4 Fathul qorib al mujib
termasuk syarah kitab al ghoyah wat taqrib yang paling ringkas dan cukup banyak
diberikan hasyiah (catatan pinggir) oleh para ulama madzhab asy-syafi’i.
Diantara nya hasyiah dari syaikh ahmad al-qolyubi, syaikh abdul bar al ajhuri,
syaikh Daud ibn sulaiman ar rohmani, syaikh ‘ali asyubromilsi, syaikh ibrohim
al birmawi, syaikh musthofa al qol’awi, syaikh ibrohim al baijuri, dan lain lain. Adapun syarh al ghoyah wat taqrib yang masyhur
misalnya kifayatul akhyar (abu bakar Muhammad al hishni), syarh mukhtashor abi
syuja’ (ahmad al ikhsoiy), Umdatun nadhor (abu bakar az zar’iy), al iqna’
(ahmad al manufi), tasyniful asma’ (ahmad al manufi), an nihayah fi syarhil
ghoyah (waliyuddin al bashir), al-iqna’ (Muhammad asy syarbini, Syarh asy
syarbini ini cukup banyak juga diberi catatan pinggir), dan fathul ghoffar
(ahmad Al’abady).
5 Muhammad ibn Qasim ibn
Muhammad ibn Muhammad, Abu abdillah, syamsuddin Al-Ghazzi. Beliau dilahirkan
tahun 859 H di kota ghozzah dan wafat tahun 918 H. Beliau tumbuh besar di kota
ghozzah dan menuntut ilmu di sana kemudian pindah ke kairo, mesir dan menetap
di kairo. Beliau seorang pengajar di universitas al-azhar, khotib di jaami’
al-qol’ah dan menjadi mufti di jami’ tersebut. Diantara guru-guru beliau adalah
syaikh zakaria al-anshori, dan syaikh as sakhowi. Beliau dikenal sebagai
seorang ulama yang zuhud, qona’ah, dan bijaksana. Diantara kitab-kitab beliau
adalah kitab fathul qorib al mujib fi syarhi alfadzit taqrib, hasyiah ‘ala
syarhit tashrif, dan hawwasy ‘ala hasyiatil khoyali (syarhul ‘aqoidin
nisafiyah)
Belum ada tanggapan untuk "Muqaddimah : tentang Kitab Fathul Qorib alMujib "
Post a Comment