Halaqoh 43
Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
———————————
Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
———————————
بسم اللّه الرحمن
الرحيم
الحمد لله و كفى والصلاة والسلام على النبي المصطفى، حبيبنا محمد صلى الله عليه و سلم و على آله وصحبه أجمعين
الحمد لله و كفى والصلاة والسلام على النبي المصطفى، حبيبنا محمد صلى الله عليه و سلم و على آله وصحبه أجمعين
Ikhwan dan akhwat
yang saya muliakan, pada kesempatan kali ini alhamdulillāh kita melanjutkan
kembali kajian fiqh syarh matan Abū Syujā’ fi fiqhil Imām Asy-Syāfi’i, dan pada
kali ini kita memasuki halaqoh ke-43 masih melanjutkan tentang “mandi-mandi
yang disunnahkan dalam Islam”.
((والغسل عند
الإحرام))
10. MANDI KETIKA
HENDAK MELAKUKAN IHRĀM
Ihrām adalah niat
untuk memulai (masuk) ibadah, baik ibadah haji atau umrah.
Dalil:
عن زيد بن ثابت، أنه
رأى النبي – صلى الله عليه وسلم – تجرد لإهلاله واغتسل (رواه الترمذي830)
“Dari Zayd bin Tsābit
bahwasanya dia melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melepaskan baju
(yang Beliau pakai lalu berganti kain ihrām dan Beliau memulai talbiyah) dan
sebelumnya Beliau mandi terlebih dahulu.” (HR. Tirmidzi No. 830)
Ini menunjukkan
bahwasanya seseorang ketika hendak ‘umrah atau haji dan dia mulai ihrām dari
miqāt maka sebelumnya disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu.
((ولدخول مكة))
11. KETIKA HENDAK
MEMASUKI KOTA MEKKAH
Dalil:
انه كان لا يقدم مكة
إلا بات بذي طوى حتى يصبح ويغتسل ويدخل نهاراً ويذكر عن النبي صلى الله عليه وسلم
أنه فعله . رواه مسلم .
Bahwasanya Ibnu
‘Umar* tidaklah masuk ke Mekkah kecuali dia selalu menginap di Dzi Thuwa
sehingga menginap sampai pagi lalu mandi kemudian baru masuk ke kota Mekkah di
siang hari dan disebutkan bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam
melakukan hal tersebut.”
*Shahabat yang paling
perhatian terhadap sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan berusaha
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sunnah-sunnah yang
masyhūr bahkan sampai perilaku Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun
beliau ikuti karena saking cintanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa
sallam, sampai cara berjalan ditiru, cara berpaling (Rasūlullāh shallallāhu
‘alayhi wa sallam berpaling dengan tubuh Beliau).
Ketika Rasūlullāh
shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah singgah di suatu tempat (berteduh di bawah
pohon), Ibnu ‘Umar jika melewati daerah itu pun sengaja untuk meniru Rasūlullāh
shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk berteduh di bawah pohon itu, padahal bukan
termasuk sunnah yang yu’jaru fā’iluhu tapi dia diberi pahala karena
kecintaannya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Para shahabat (Ibnu
‘Umar dan yang lainnya) ridhwānullāh ‘alayhim ajma’īn itu sangat jauh kalau
seandainya mereka melakukan sesuatu yang tidak ada contoh atau tidak pernah
dilihat dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Mereka adalah
orang-orang yang paling jauh dari mempersulit (membebani) diri sendiri kecuali
dengan sesuatu yang pernah mereka lihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa
sallam melakukannya atau menyuruhnya atau membiarkan sebagian shahabat
melakukannya.
Ini hukumnya seperti
hukum marfu’, hadits yang diangkat ke Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,
ketika shahabat melakukan sesuatu yang pernah dilihat dari Rasūlullāh
shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Walaupun yang
melakukan mandi yang disunnahkan ini adalah Ibnu ‘Umar, tetapi mandi ini
bukanlah perbuatan karangan Ibnu ‘Umar semata namun dikatakan Rasūlullāh
shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah melakukan hal tersebut. Ini menunjukkan hal
itu termasuk sunnah.
((وللوقوف بعرفة))
12. MANDI KETIKA AKAN
WUKUF DI ‘ARAFAH
Yaitu dilakukan pada
tanggal 9 Dzulhijjah (1 hari sebelum ‘Idul Adha).
Dalil:
عن ابن عمر أنه (كَانَ
يَغْتَسِلُ لإِحْرَامِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ ، وَلِدُخُولِ مَكَّةَ ،
وَلِوُقُوفِهِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ) [مالك في الموطأ بإسناد صحيح].
Dari Ibnu ‘Umar
radhiyallāhu ‘anhumā, “Beliau biasa mandi untuk ihramnya sebelum melakukan
ihram, juga ketika masuk ke kota Mekkah, dan ketika beliau akan wuquf di malam
hari ‘Arafah.” (Diriwayatkan oleh Imam Mālik dalam kitab Al-Muwaththā jilid 1
Hal 322)
Ini menunjukkan
bahwasanya hal itu disunnahkan seseorang itu mandi sekalipun tidak disebutkan
disini hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, namun Ibnu ‘Umar
melakukan itu semua karena pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa
sallam melakukannya atau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh
beliau.
Demikian yang bisa
kita bahas pada pertemuan kali ini, in syā Allāh kita akan lanjutkan pembahasan
terakhir dari mandi-mandi yang disunnahlan pada halaqah berikutnya.
بالله التوفيق و الهدايةو صلى الله على نبينا و على آله و صحبه أجمعين
—————-
Ditulis oleh Tim Transkrip
Murojaah : Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto M.A.
No comments:
Post a Comment