Halaqoh 45
Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
———————————
Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
———————————
بسم اللّه الرحمن
الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد صلى الله عليه و سلم و على آله وصحبه أجمعين
الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد صلى الله عليه و سلم و على آله وصحبه أجمعين
اَللَّهُمَّ لاَ
عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ وَ
تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي
صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا
قَوْلِي.
Ikhwan & akhwat
para peserta kajian fiqh Asy-Syāfi’i yang dimuliakan Allāh, alhamdulillāh pad
kesempatan yang baik ini kita akan memasuki halaqah yang ke-45 dan akan
membahas tentang bab baru.
((فصل: والمسح على
الخفين جائز))
Bab Membasuh Dua
Sepatu Yang Dibolehkan Dalam Syari’at Islam.
Mengusap 2 sepatu
maksudnya adalah mengusap sepatu dan yang sejenisnya (misal kaus kaki yang
tebal), dan mengusap 2 sepatu merupakan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi
wa sallam yang sekarang kaum muslimīn banyak yang melalaikan/meninggalkannya.
Jāizun: Boleh
dilakukan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sekalipun tidak terus
menerus namun sunnah ini harus kita hidupkan supaya kaum muslimin tahu bahwa
disana ada syari’at tentang “mengusap 2 sepatu ketika berwudhū'”.
Jāizun: dibolehkan,
maksudnya disyari’atkan (ada syari’atnya)
Dalil:
❶ Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘alayh) dan lafazh hadits ini dari Muslim.
❶ Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘alayh) dan lafazh hadits ini dari Muslim.
Dari Jarir
radhiyallāhu ‘anhu:
أنه بال ثم توضأ ومسح
على خفيه، فقيل له: تفعل هكذا. قال: نعم، رأيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم-
بال ثم توضأ ومسح على خفيه، (متفق عليه)
“Bahwasanya dia buang
air kecil (berhadats), kemudian beliau berwudhū’ dan mengusap kedua sepatunya.”
(Ketika berwudhū’
hampir selesai lalu beliau tidak melepas sepatunya namun hanya diusap.)
Kemudian ditanyakan
oleh para shāhabat: “Apakah kamu melakukan hal ini?”? (Seolah-oleh dia heran
atau mengingkari pertanyaan (i’jab wa inkar)).
Maka Jarir menjawab:
“Ya, benar aku melakukan ini karena aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi
wa sallam pernah buang air kecil kemudian Beliau berwudhū’ dan mengusap kedua
sepatunya.”
Rasūlullāh
shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak melepas sepatunya namun hanyq mengusapnya.
Berkata Hasan
Al-Bashriy (seorang tabi’in utama) mengatakan: “Telah meriwayatkan hadits
tentang sepatu ini 70 orang shāhabat, ada yang berupa perbuatan (Rasūlullāh
shallallāhu ‘alayhi wa sallam) atau sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa
sallam yang menyebutkan tentang mengusap sepatu.”
Jadi hadits ini
derajatnya muttawatir karena diriwayatkan oleh lebih 10 shāhabat
((بثلاث شرائط: أن
يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة))
Dan mengusap kedua
sepatu itu boleh dengan 3 syarat:
❶ Seseorang ketika memakai kedua sepatu itu setelah bersuci/berwudhū’ dengan sempurna.
❶ Seseorang ketika memakai kedua sepatu itu setelah bersuci/berwudhū’ dengan sempurna.
Maksud suci yang
sempurna adalah tidak dalam hadats besar atau kecil, misal jika junub hendaknya
mandi terlebih dahulu. Jadi tidak sembarangan, bukan orang yang tidak berwudhū’
sama sekali, misal mau pergi ke kantor pakai sepatu tanpa berwudhū’ sebelumnya
dan ketika sampai kantor hendak wudhū’ dengan mengusap sepatunya saja, ini
tidak boleh karena tidak memenuhi syarat “sebelum memakai sepatu sudah dalam
keadaan suci”.
Dalil:
Hadits Mughīrah bin Syu’bah radhiyallāhu ‘anhu dia berkata:
Hadits Mughīrah bin Syu’bah radhiyallāhu ‘anhu dia berkata:
كُنْتُ مَعَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي مَسِيرٍ فَقَالَ
لِي أَمَعَكَ مَاءٌ قُلْتُ نَعَمْ فَنَزَلَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَشَى حَتَّى
تَوَارَى فِي سَوَادِ اللَّيْلِ ثُمَّ جَاءَ فَأَفْرَغْتُ عَلَيْهِ مِنْ
الْإِدَاوَةِ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَعَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوفٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ
أَنْ يُخْرِجَ ذِرَاعَيْهِ مِنْهَا حَتَّى أَخْرَجَهُمَا مِنْ أَسْفَلِ الْجُبَّةِ
فَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ أَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ
فَقَالَ دَعْهُمَا فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ وَمَسَحَ عَلَيْهِمَا
(رواه البخاري و المسلم)
“Saya pernah bersama
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada suatu malam dalam perjalanan, maka
beliau bersabda kepadaku, “Apakah kamu memiliki air?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu
beliau turun dari kendaraannya, lalu berjalan hingga tersembunyi dalam gelapnya
malam (untuk buang air besar). Kemudian beliau datang kembali, lalu aku
menuangkan air dari geriba untuknya, beliau pun mencuci mukanya. Karena memakai
jubah wol yang kedua lengannya sempit, maka beliau pun merasa kesusahan untuk
mengelurkan kedua tangannya, beliau lalu mengeluarkannya lewat bawah jubahnya.
Lalu beliau mencuci kedua lengannya dan mengusap kepalanya. Kemudian aku
jongkok untuk melepas kedua khufnya, maka beliau bersabda, “Biarkanlah
keduanya, karena aku memasukkan kedua kakiku padanya dalam keadaan suci.” Maka
beliaupun hanya mengusap bagian atas dari kedua khufnya.” (HR. Al-Bukhari no.
5799 dan Muslim no. 274)
* Khidmat para
shāhabat sangat luar biasa terhadap Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,
bahkan orang-orang kafir Quraisy heran sampai mereka mengatakan: “Saya tidak
pernah melihat seorang raja dihormati melebihi Muhammad dihormati oleh para
shāhabat”. Jadi kemanapun Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pergi, pasti
ada yang mengawal, membawakan sandal, menuntun kendaraannya, subhānallāh.
Hadits ini dijadikan
dalil oleh para ulama bahwasanya mengusap sepatu disyaratkan ketika memakainya
sudah bersuci terlebih dahulu.
Demikian yang bisa
kita bahas pada halaqah kali ini, kita akan lanjutkan pada halaqah berikutnya
tentang mengusap kedua sepatu.
بالله التوفيق و الهدايةو صلى الله على نبينا محمد صلى الله و على أصحابه أجمعين
——————————
Ditulis oleh Tim Transkrip
Muraja’ah : Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto M.A.
No comments:
Post a Comment