Monday, August 3, 2015

Kitab AthThahārah

Halaqoh 10
Oleh
Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, M.A.
(Asal dari artikel ini adalah transkrip kajian Whatsapp Ust. Abu ziyad)
————————
 بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
أَلْحَمْدُ لِلّهِ وَالصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
.
Para peserta kajian fiqh yang dimuliakan Allāh, kita lanjutkan pada sesi yang ke-10 ini. Apa yang ditulis oleh Muallif Al-Imām Abu Syujā’, Beliau memulai kitabnya dengan menyebutkan Kitābuth Thahārah.
Al-kitāb secara bahasa artinya adalah: وَالْجَمْعُ الضَّمُّ yaitu sesuatu yang disatukan dan dikumpulkan. Adapun secara istilah fiqh: اسم لجنس من الأحكام yakni nama untuk jenis (kumpulan beberapa) hukum-hukum. Sementaraal-bāb adalah macam dari macam-macam yang ada dalam sebuah kitab.
Beliau menyebutkan: كتاب الطهارة
Ath-Thahārah[1] secara bahasa artinya اَلنَّظَافَةُ yaitu bersih secara istilah syar’i memiliki penafsiran yang banyak, diantaranya:
فعل ما تستباح  به الصلاة أي من وضوء وغسل وتيمم وازالة نجاسة
Thahārah adalah perbuatan yang dengan perbuatan tersebut dibolehkan seseorang untuk melakukan shalat, yaitu mencakup tentang wudhu, mandi, tayamum dan menghilangkan najis dari badan.
Dikarenakan alat untuk bersuci yang paling utama adalah air, maka muallif menyebutkan tentang macam-macam air yang bisa digunakan untuk bersuci.
Beliau menyebutkan :
المياه التي يجوز التطهير بها سبع مياه
Air yang bisa digunakan untuk bersuci[2] itu ada 7 macam.
 م۱ . ماء السماء أى النازل منها وهو المطر
  1. Yang dimaksud disini (air langit) adalah air yang turun dari langit yaitu air hujan. [3]
٢ . ماء البحر
  1. Air laut yaitu air yang rasanya asin atau [ماء الملح. [4
٣ .ماء النهر
  1. Air yang ada di sungai dan biasanya tidak asin.
٤.ماء البئر
  1. Air sumur, yang biasanya berasal dari sumber air yang ada didalam tanah (dikedalaman tertentu), ini juga termasuk air yang suci. [5]
٥. ماء العين
  1. Maksudnya adalah air yang keluar dari mata air (permukaan) tanpa digali. [6]
٦. ماء الثلج
  1. Air es, ini berada di daerah yang dingin seperti dikutub atau dipuncak-puncak gunung yang tinggi.[7]
٧.ماء البرد
  1. Air embun
Kalau kita lihat, ke-7 macam air ini adalah boleh dikatakan semua air yang keluar dari tanah atau turun dari langit. Secara mudah, 7 macam air ini tidak keluar dari kondisinya, baik dia:
  1. Air yang keluar dari tanah yaitu mengalir seperti mata air
  2. Air yang digali seperti sumur
  3. Air yang ada dipermukaan seperti sungai
  4. Air yang turun dari langit seperti air hujan, air embun, air es.
Dan asal dari semua air ini adalah thahūr (suci) dan boleh digunakan untuk bersuci.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al-Anfāl :
وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ
“Dan Allāh lah yang menurunkan untuk kalian air dari langit supaya kalian menggunakannya untuk bersuci.” (Al-Anfāl: 11)
Dan banyak lagi dalil-dalil yang menyebutkan tentang 7 macam air ini, in syā Allāh kita akan bahas lebih lanjut pada pertemuan berikutnya.
بِاللَّهِ التَّوْفِيْقِ وَ الْهِدَايَةِ.
وَصَلَّى اللّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
___________________
[1] Ath thuharoh dengan di dhommah tho’-nya adalah air sisa dari bersuci yang ada di dalam ceret/bejana bukan sisa air dari sumur atau laut atau yang semisalnya. Adapun ath thiharoh dengan di kasroh tho’nya adalah nama dari apa yang disandarkan ke air seperti misalnya sidr/bidara (sejenis tanaman yang dicampurkan ke air). (hasyiah al baijuuri : 67)
[2] Tidak boleh menggunakan air untuk bersuci selain dari 7 yang disebutkan di atas. Barangsiapa yang sengaja menggunakan selain dari yang 7 macam air ini untuk bersuci baik wudlu maupun mandi maka sungguh ia telah bertaqorrub dengan sesuatu yang tidak di tempatkan oleh syariat untuk bertaqorrub, ia bermaksiat kepada Allah karena perbuatannya ini dan juga tidak sah bersucinya. Pengkhususan bersuci dengan air ini adalah sifatnya ta’abbudi yakni perkara yang sifatnya hanya mengikuti perintah pembuat syariat tidak (harus) dipahami ma’na atau hikmahnya. Oleh karenanya ia tidak bisa di qiyaskan kepada yang lainnya, hal ini menyelisihi madzhab hanafiyyah. (hasyiah al baijuuri 68)
[3] Dalil tentang bolehnya bersuci dengan air hujan ini adalah Q.S. Al-Anfal : 11 sebagaimana yang telah disebutkan oleh ust. Abu ziyad.
[4] Dalil tentang boleh nya bersuci dengan air laut adalah hadits : “سئل رسول الله عن ماء البحر فقال ” هو الطهور ماءه, الحل ميتته ” yang artinya: “ ketika rasulullah ditanya tentang air laut, beliau bersabda: air laut itu suci airnya dan halal bangkainya” ( Ibnu hibban : 1243, at tirmidziy : 69, al bukhori dalam at tarikh al kabiir : 3/478)
[5] Dalil tentang bolehnya bersuci dengan air sumur adalah Hadits Abu sa’id al khudri rodhiyallahu anhu :
أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ»
Apakah kami boleh berwudlu dari air sumur budho’ah sementara dilemparkan kedalam sumur tersebut potongan kain bekas haid, daging anjing, dan kotoran-kotoran, maka Rasulullah bersabda Air itu adalah thohur, tidaklah sesuatupun menajiskannya. (abu daud: 66, an nasai : 326, ahmad : 11257)
[6] Air mata air dan air sungai adalah semakna dengan air sumur (Kifayatul akhyar: 31)
[7] Dalil tentang boleh nya bersuci dengan air es dan air embun adalah hadits abu hurairah :
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ القِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً – قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ: هُنَيَّةً – فَقُلْتُ: بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ؟ قَالَ: ” أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ
“Bahwa rasulullah benar-benar diam antara takbiratul ihram dan al fatihah dalam sholat beliau diam sejenak sebelum beliau membaca al fatihah. Maka aku bertanya kepada beliau: Biarlah ayah dan ibuku sebagai tebusannya wahai rasulullah, diammu antara takbiratul ihram dan al fatihah, apakah yang engkau baca (dalam diam tersebut)? Rasulullah berkata: aku membaca Ya Allah jauhkan antara aku dengan dosa-dosaku……Ya Allah bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es (salju) dan air embun. (Al bukhori : 744, muslim : 147, Ibnu majah: 805, Ahmad : 7164).
________________________________
Pensyarah/Murojaah    : Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto M.A.
Transkriptor                    : dr. Ummu ‘Abdirrahman
Editor/Hasyiah               : Dr. Farid Abu Abdillah

No comments:

Post a Comment